Langsung ke konten utama

Di Balik Sebuah Keajaiban



Aku percaya dengan keajaiban. Sesuatu yang ingin kita gapai melalui usaha dan pengorbanan yang disertai rasa ikhlas, ntah apa pun nanti hasilnya. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, tapi tetap Allah yang menentukan. Usaha tanpa doa tak ada artinya, begitu pula sebaliknya.
            Kala itu sekolahku mengadakan Kegiatan Tengan Semester, yang biasa kami sebut KTS. Diadakan setiap satu tahun sekali setelah Ulangan Tengah Semester 1. Berbagai macam kegiatan diadakan, seperti lomba futsal, voli, balap karung, mading, dan mata pelajaran. Tak ketinggalan juga bazar serta panggung hiburan di puncak acaranya.
            Di kelas aku bukanlah termasuk anak yang pintar. Ntah mengapa teman-temanku satu kelas mempercayaiku untuk berpartisipasi dalam lomba mata pelajaran kimia.
            “Ayolah, kamu ya yang maju.” pinta salah satu temanku.
            “Jangan aku, yang lain aja.” kataku menolak.
            “Kenapa memangnya? Kami percaya kok sama kamu.”
            “Aku nggak bisa. Tahu sendirikan kemampuan ku berhitung nggak terlalu sempurna, nggak bisa cepat.”
            “Ini kimia, bukan matematika. Soal berhitungnya pasti nggak sebanyak matematika.”
            “Aduh, gimana ya? Ntar kalau kalah?” tanyaku cemas.
            “Udahlah, ikut aja. Kalah menang urusan belakang, yang penting dari kelas kita ada yang mewakili dan kami percayakan ke kamu.” kata ketua kelasku.
Awalnya aku tak mau karena aku tak yakin dengan kemampuanku. Alasan demi alasan penolakan terus ku lontarkan, tapi tak ada satu pun yang berhasil. Pada akhirnya aku mengiyakan dengan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku mampu.
            Kini sampailah pada hari H, dimana aku harus bertarung dengan soal-soal kimia. Sempat aku berfikir untuk mengundurkan diri setelah aku tahu saingan-sainganku merupakan anak-anak yang pintar dari setiap kelasnya. Wajah-wajah mereka terlihat begitu bersemangat dan siap untuk bersaing memperebutkan piala kejuaraan mata pelajaran kimia.
“Semangat, kamu pasti bisa.” kata salah satu teman sekelasku memberikan semangat.
“Huuhhfftt… Iya, semangat. Bismillah…” ucapku sebelum memasuki ruangan.
            Aku merasa persiapanku kurang matang, karena hingga detik-detik waktu akan habis pun masih ada beberapa soal yang belum aku kerjakan. Satu demi satu peserta mulai berhamburan keluar. Keadaan ini membuatku semakin tertekan dengan soal-soal yang harus ku hadapi. Hanya satu dalam benakku, ingin aku segera menyelesaikan soal-soal ini dan keluar dari keadaan yang buatku tertekan. Tak sedikit pun terbesit dalam benakku untuk keluar sebagai pemenang. Cukup dengan aku telah menyelesaikan soal-soal ini, aku sudah bersyukur. Setidaknya aku telah berusaha memberikan yang terbaik untuk kelasku. Lainnya? Ku serahkan semua hasilnya pada Allah.
            Saat upacara bendera, pemenang lomba-lomba kegiatan KTS diumumkan. Tak ada rasa ketegangan pada diriku, karena aku tak terlalu berharap untuk menjadi juara. Sangat bangga ketika lomba mata pelajaran matematika, fisika, dan biologi dimenangkan oleh teman sekelasku, X-1. Satu hal yang tak pernah aku duga kala itu ialah, ketika namaku disebutkan sebagai pemenang lomba mata pelajaran kimia.
            “Untuk mata pelajaran kimia, dimenangkan oleh Rosalinda Hidayati dari kelas X-1.” ucap protokol upacara bendera.
            Suara tepuk tangan dari teman-teman satu kelas semakin keras, karena mereka bahkan aku sendiri pun juga tak menyangka bahwa X-1 memborong piala kemenangan lomba mata pelajaran dalam bidang IPA.

            Niat, yakin, usaha dan doa merupakan kunci menuju kesuksesan. Setelah itu, berserah dirilah kita kepada Allah. Kita tak akan pernah tau hasilnya jikalau kita tak pernah mau mencoba. Yakinlah, bahwa keajaiban itu nyata adanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu

Mengenalmu adalah keberuntunganku Keberadaanmu adalah semangatku Senyumanmu adalah bahagiaku Tatapanmu adalah jantungku Melihatmu sendiri ku merasa sedih Melihatmu bersamanya ku cemburu Di dekatmu ku menjauh Jauh darimu ku rindukanmu Tak pernah ku tahu apa yang sebenarnya ku rasakan?! Perasaan ini sulit ntuk ditebak, Ku hanya ingin kau tahu.. Bahwa aku menyayangimu

Seandainya

Seandainya ku tak melihatmu.. Aku takkan pernah mengenalmu, Seandainya ku tak mengenalmu.. Aku takkan pernah mengagumimu, Seandainya ku tak mengagumimi.. Aku takkan pernah punya perasaan cinta dan sayang kepadamu, Dan seandainya ku tak punya perasaan tersebut.. Aku tak akan pernah tersakiti olehmu !! Dan 1 hal yang harus kamu tau !! Aku punya segenggam cinta di hati yang tulus untukmu…

Cinta Sejati

Ku terus menantimu Dalam siksaan batinku Berharap kan bisa bersamamu Sampai ajal menjemputku Tuhan… Masih dapatkah ku bertemu dengannya? Masih bisakah ku meraih cintanya? Dan sanggupkah ku setia menantinya? Walau ku tahu, Hanya Engkau lah cinta sejatiku yang sebenarnya #hahahaha…. Pernah dimuat di majalah sekolah edisi ke 2 periode tahun 2011/2012